Memetik bunga di taman sendiri, bukanlah hal yang tabu...
Memetik Bunga di taman sendiri itu,
memiliki makna yang tersirat,
arti yang terkandung,
pemahaman yang luas,
serta senyum yang lebar...
mungkin saja ada sebagaian orang yang merasa
aneh diwaktu dini mengatakan hal yang demikian,
tapi seiring berjalannya waktu, ketika waktu kusam berganti dengan para pelangi, membuat muka itu menunduk pada pekarangan yang pernah ia pijak, maka disitu ia berhalusinasi untuk memetik setangkai
"bunga".
 |
| Memetik bunga di taman sendiri |
(-----------------------------------------------)
bukanlah sebuah keanehan bagi para aktivis dakwah jika ia memilih untuk memetik bunga ditamannya sendiri, bahkan ini pun juga banyak dilakukan oleh orang luar sana yang awwam, ketika mereka beraktivitas, adakalanya mereka cinlok, ataukah yang serupa dengannya...
tapi, yang membuat para aktivis itu berbeda dengan orang awwam itu adalah
"al-manhaj"
so, apa masalahnya...???
langsung saja kalo gitu...
kadang ikhwa cukup malu-malu tuk mau memetik bunganya sendiri ketika mereka masih dalam lingkup organisasi, bagaimana dengan akhwat...??? sama saja, dan mungkin sifat gensinya jauh dari takaran...
kadang pula akhwat ada saja yang berbetik mengatakkan
"iddiiihhh, sama dia, enggak di' dulu deh"
bahkan yang parahnya, mungkin saja mereka ada yang sempat mengazzamkan pada dirinya untuk tidak memilih dia...
padahal, jika sekiranya mereka mengetahui, apa dibalik kisah dari pada para orang yang memetik bunga ditamannya sendiri, maka itu akan menjadi sebuah fenomenal tersendiri baginya...
subhanallah...
(-----------------------------------------------)
ketika banyaknya para ikhwa mencari pendampingnya setelah bedoa kepada Allah Subhanahu Wa ta'alaa, maka para mereka yang memetik bunga di taman sendiri, memiliki kisah unik, diantaranya adalah adanya kemudahan...
kenapa bisa...???
ya iyyalah, mereka itukan satu payung dalam bergerak, mereka pula satu payung dalam bergerak di jalan-Nya, mendakwahkan dien ini,
maka diatara kemudahan adalah telah diketahuinya
manhaj yang ada pada benak orang itu yang akan dipinangnya, maupun orang yang terpinang...
bahkan, ketika mereka melangkah pada langkah awalpun,
mereka dicukupkan saja dengan informasi yang tidak banyak, maka orang itupun mungkin telah dapat menggambarkan karakter orang itu, seraya tersipu malu plus sifat salah tingkah yang tak berdaya...
adapun yang lainnya, insya Allah engkau akan mengetahui setelah engkau mencabanya secara matang, jika engkau mau memetik bunga ditamanmu sendiri...
(--------------------------------------------)
ikhwafillah,
Tapi dibalik itu semua,
dibalik kemudahan itu semua,
ada juga fitnah besar diantara keduanya,
dan untuk yang hal ini, kembali lagi pada personalnya masing-masing,
apa itu....???
ikhwafillah
bukan berarti engkau mau memetik bunga ditamanmu sendiri, maka engkau memulainya dengan jalur yang tidak syar'i,
bukan berarti engkau mau yang demikian, semenjak engkau berjuang dalam satu payung, engakaupun telah saling menitipkan nama dalam hatimu, saling berpesan, dan yang parahnya lagi jika diantara keduanya ada yang mendapatkan penawaran, mereka saling menolak, karena menunggu yang satu itu, naudzubillah....
bahkan yang parahnya juga, jika engkau telah saling berjanji untuk saling menunggu dengannya,
membuka jalur sendiri tanpa perantara yang terpercaya,
membangun komunikasi langsung, dengan sms-an, lewan inbok para jejaring sosial, ataukah yang semisalnya,
maka ini bukanlah lagi engkau memetik bunga ditaman sendiri,
tetapi engkau mencabut paku 100 yang karatan total dengan tanganmu sendiri,
dan kita tentunya harus semaksimal mungkin untuk tidak terjerus dari hal ini....
Allahu A'lam...
(bersambung insya Allah)